Budi masih mengingat jelas perjalanan pertamanya ke Yogyakarta: saat itu usianya baru sepuluh tahun, ayah dan ibunya mengajaknya berlibur selama libur sekolah.
Yang ia ingat bukan hotel tempat mereka menginap, bukan pula tempat wisata yang dikunjungi. Yang paling membekas justru hal-hal kecil: suara becak yang melintas pelan di sekitar Malioboro, aroma gudeg yang keluar dari dapur sebuah rumah makan tua di kawasan Wijilan, seorang bapak yang sedang melukis wayang di sudut kampung, dan seorang penjual angkringan yang masih tersenyum kepada setiap pembeli meskipun waktu sudah mendekati tengah malam. Saat mobil keluarga meninggalkan Yogyakarta, Budi sempat berkata kepada ayahnya,
“Suatu hari nanti aku ingin tinggal di sini.”
Ayahnya hanya tertawa. Ia mengira itu hanya ucapan seorang anak kecil.
Dua belas tahun kemudian, ucapan itu benar-benar menjadi kenyataan. Budi diterima di salah satu universitas di Yogyakarta. Teman-temannya sibuk mencari kos yang hanya berjarak lima menit dari kampus, sebagian lagi memilih apartemen yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Semuanya masuk akal, semuanya praktis.
Tetapi Budi justru mengambil keputusan yang berbeda. Ia memilih tinggal di kawasan Palagan.
“Jauh amat,“ komentar temannya.
Budi hanya tersenyum. Ia memang sengaja tidak ingin tinggal terlalu dekat. Bukan karena tidak ada pilihan. Tetapi karena ia merasa masih punya janji kecil kepada dirinya sendiri. Ia ingin mengenal Yogyakarta. Bukan hanya kampusnya.
Setiap pagi, perjalanan menuju kampus menjadi rutinitas yang justru ia nantikan. Kadang ia memilih melewati Jalan Monjali, kadang Jalan Kaliurang, dan kadang sengaja pulang lewat Jalan Mangkubumi dilanjut ke arah Malioboro meskipun sedikit lebih jauh. Bukan karena tersesat, tetapi karena ia penasaran.
Hari itu ia menemukan seorang pengrajin perak yang sedang membuka toko kecilnya di area Kota Gede. Esoknya ia berhenti beberapa menit melihat seorang pelukis menyelesaikan mural di sebuah gang di Sayidan. Minggu berikutnya ia tanpa sengaja masuk ke Kampung Batik Giriloyo, tempat para perajin masih membatik dengan tangan, mempertahankan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Di lain waktu, seorang teman mengajaknya ke Kasongan, menyaksikan para perajin membentuk tanah liat menjadi guci, patung, dan kerajinan yang diekspor ke berbagai negara. Budi mulai memahami sesuatu. Jogja ternyata bukan kota yang selesai dipahami dalam satu akhir pekan.
Suatu malam, dosennya bertanya di kelas, “Apa yang paling kalian ingat dari satu bulan pertama kuliah?”
Teman-temannya menjawab hampir sama: mata kuliah, tugas, ospek, organisasi.
Giliran Budi, ia menjawab pelan, “Gudeg.”
Seluruh kelas tertawa. Budi ikut tertawa. Lalu ia melanjutkan, “Bukan gudegnya saja. Tapi ibu yang jualan.”
Ia bercerita tentang sebuah warung kecil di gang sempit dekat Wijilan: tentang bagaimana pemilik warung mengingat namanya hanya karena ia datang tiga kali dalam seminggu, tentang obrolan sederhana sambil menunggu nasi disajikan, dan tentang cerita masa kecil sang ibu yang tidak pernah ia temukan di buku kuliah.
Saat itu Budi sadar: kadang seseorang mengenal sebuah kota bukan melalui bangunan-bangunannya, tetapi melalui orang-orang yang ditemuinya.
Akhir pekan menjadi hari favoritnya bukan untuk tidur lebih lama, melainkan untuk sengaja pergi tanpa tujuan.
Pernah ia mengikuti aroma roti yang keluar dari sebuah gang hingga berakhir di kawasan Pathok, tempat bakpia diproduksi sejak puluhan tahun lalu. Dari balik jendela rumah produksi, ia melihat adonan kecil dibentuk satu per satu oleh tangan-tangan yang sudah sangat terampil.
Di hari lain ia diajak teman menuju Bantul. Bukan ke tempat wisata. Melainkan menikmati sate klathak yang dibakar menggunakan jeruji besi sepeda, dengan bumbu yang begitu sederhana sehingga rasa daging kambing justru menjadi pemeran utama. Pulangnya mereka berhenti di sebuah warung bakmi Jawa. Mie godhog dimasak satu per satu di atas tungku arang. Pemilik warung berkata,
“Kalau masaknya buru-buru, rasanya beda.”
Budi tersenyum. Kalimat itu terasa seperti nasihat tentang hidup.
Semester demi semester berlalu. Budi mulai memiliki peta Jogja versinya sendiri bukan peta digital, tetapi peta kenangan. Ada sudut kota tempat ia pertama kali merayakan nilai A, ada warung kopi kecil tempat ia mengerjakan skripsi, ada angkringan Kopi Joss tempat ia bertemu sahabat yang kemudian menjadi rekan bisnisnya, dan ada jalan yang selalu ia lewati ketika pikirannya sedang penuh. Setiap tempat memiliki cerita, dan setiap perjalanan menuju kampus menambah satu cerita baru.
Suatu sore, ketika wisuda tinggal menghitung minggu, seorang mahasiswa baru bertanya kepadanya, “Mas, lebih enak tinggal dekat kampus atau agak jauh?”
Budi tidak langsung menjawab. Ia memandang langit sore yang mulai berubah jingga, lalu berkata, “Kalau tujuanmu hanya supaya cepat sampai kelas, tinggal dekat kampus adalah pilihan yang baik.”
Ia berhenti sejenak. “Tapi kalau kamu juga ingin mengenal Jogja, mungkin sesekali jangan takut mengambil jalan yang sedikit lebih jauh. Karena kadang… jalan memutar itulah yang mempertemukan kita dengan cerita yang paling berharga.”
Empat tahun kemudian, yang paling diingat Budi bukan lagi jadwal kuliah, bukan ruang kelas, bukan nilai ujian. Yang ia ingat adalah kota ini: Jogja yang ia kenal sedikit demi sedikit melalui aroma gudeg di pagi hari, melalui tangan-tangan para perajin, melalui angkringan yang tak pernah sepi percakapan, dan melalui perjalanan pulang yang selalu terasa terlalu singkat.
Epilog
Mataram City tidak mengajak setiap mahasiswa tinggal jauh dari kampus, tidak pula mengatakan bahwa satu pilihan lebih baik daripada yang lain. Setiap mahasiswa memiliki kebutuhan yang berbeda.
Namun satu hal yang ingin dihadirkan Mataram City adalah sebuah cara pandang: bahwa tinggal di Yogyakarta bukan sekadar soal memiliki alamat, tetapi tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk mengenal kota yang telah lama dikenal sebagai kota budaya, kota pelajar, dan kota yang selalu meninggalkan cerita bagi siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Itulah semangat “Jogja Near You – Bringing Yogyakarta Heritage to Your Doorstep.”