Sore ini aku lagi duduk di depan kolam renang, sambil menatap gunung Merapi dari ketinggian. Di tangan ada wedang jahe, ditemani pisang goreng yang masih hangat. Nggak ada yang istimewa sebenarnya. Cuma entah kenapa, suasana seperti ini bikin aku ingat masa-masa awal kuliah di Jogja.
Waktu itu aku masih tinggal di kost sekitar kampus. Rutinitasku ya begitu-begitu saja.
Pagi berangkat kuliah, siang makan di kantin bareng teman-teman. Kalau ada kegiatan mahasiswa, biasanya lanjut sampai sore. Kadang sebelum pulang sekalian beli makan buat malam. Biar nanti nggak perlu keluar lagi. Seperjalanan pulang, kadang ketemu lagi sama teman-teman sekelas yang kebetulan juga banyak tinggal di sekitar situ.
Sampai kamar, buka laptop, belajar sembari ngerjain tugas. Kalau tugas sudah agak longgar, baru mencoba cari waktu buat melakukan hal-hal yang aku suka, baca novel dan main gitar
Besoknya begitu lagi. Kuliah, tugas, makan, kost, tidur. Begitu terus hampir setiap hari.
Ya… namanya juga mahasiswa. Sampai suatu malam, ada teman yang ngajak aku menginap di apartemennya. Awalnya biasa saja. Kami datang malam, lalu sebelum masuk kamar dia ngajak ke City Walk makan Sate Klathak, plus semangkok mie godhog buat bedua.
Ngobrol sebentar, lalu balik. Yang aku ingat justru malamnya. Tidurku nyenyak banget.
Bukan karena tempatnya seperti apa. Tapi karena suasananya tenang. Nggak ada suara teman ngobrol keras di depan kamar. Nggak ada berisik candaan dari dinding sebelah. Nggak ada motor berknalpot brong yang mondar mandir di gang sebelah.
Besok paginya kami juga nggak langsung ke mana-mana. Bikin sarapan seadanya di dapur mungil, lalu lanjut buka laptop lagi. Tugas kuliah tetap ada. Bedanya, kali ini ngerjainnya terasa lebih santai. Saat siang mulai bosan. Akhirnya kami pindah tempat. ngopi di Le Papito, duduk, ngobrol santai sambil mengerjakan tugas sampai kelar.
Menjelang sore, teman ngajak nge-gym. \”Nanti tugasnya dilanjutin lagi,\” katanya. Ya sudah, ikut.
Hari itu sebenarnya sederhana banget.
Nggak ada jalan-jalan jauh. Nggak ada acara khusus. Bahkan sebagian besar waktunya tetap dihabiskan buat ngerjain tugas.
Tapi entah kenapa, aku merasa hari itu punya ruang yang lebih banyak.
Aku baru sadar, ternyata kehidupan mahasiswa nggak harus selalu berputar di sekitar kampus.
Ada waktunya belajar.
Ada waktunya ketemu teman.
Ada waktunya olahraga.
Ada waktunya ngopi.
Ada waktunya ngopi baca komik atau main gitar
Dan ada waktunya cuma diam menikmati sore.
Dua bulan kemudian, setelah ngobrol cukup panjang dengan keluarga, akhirnya kami memutuskan untuk membeli satu unit apartemen di Arjuna Tower untuk tempat tinggalku selama kuliah di Jogja.
Buatku, keputusan itu bukan soal ingin tinggal di tempat yang lebih keren atau lebih mewah.
Aku cuma merasa, ternyata ada cara lain untuk menjalani masa kuliah.
Tetap kuliah, tetap mengerjakan tugas, tetap bertemu teman-teman, tetap menjadi mahasiswa seperti biasanya.
Tapi di sela-selanya, aku punya kesempatan untuk menikmati Jogja sedikit lebih banyak.
Kadang malamnya cari makan.
Kadang pagi-pagi keluar sebentar.
Kadang ngopi sambil mengerjakan tugas.
Kadang olahraga.
Kadang jalan-jalan tanpa tujuan yang terlalu jelas.
aku mengalami keseharian yang jauh berbeda,
Dan semakin lama tinggal di Jogja, aku semakin merasa bahwa kota ini memang sayang kalau cuma dikenal dari kampus dan tempat kost. Ada banyak cerita di luar sana.
Tentang makanan, jalan-jalan kecil, kampung-kampung tua, bangunan bersejarah, seni, budaya, sampai kebiasaan-kebiasaan sederhana yang mungkin baru terasa setelah kita tinggal cukup lama di sini.
Mungkin itu yang aku suka dari tinggal di Jogja. Kita bisa tetap menjadi mahasiswa, tapi punya kesempatan untuk menjadi bagian dari kehidupan kota ini juga. Karena pada akhirnya, masa kuliah mungkin bukan cuma tentang berapa banyak tugas yang selesai atau berapa nilai yang kita dapat.
Tapi juga tentang cerita-cerita kecil yang nanti, setelah lulus, tiba-tiba kita rindukan.
Seperti sore ini.
Merapi, wedang jahe, pisang goreng, dan kenangan tentang masa-masa kuliah.
18 September 2025, Mataram City, Yogyakarta