“Pernahkah Anda berniat membeli properti, tapi tiba-tiba ragu karena melihat berita dolar AS yang terus menguat? Banyak orang memilih ‘wait and see’ alias menunda. Namun, di dunia properti, menunda pengambilan keputusan di saat ketidakpastian nilai tukar juga membawa risiko finansial tersendiri yang perlu dipertimbangkan matang-matang.”
Dampak Kenaikan Dolar terhadap Harga Properti Baru
Banyak komponen esensial dalam pembangunan gedung bertingkat tinggi yang sensitif terhadap nilai tukar karena masih mengandalkan bahan impor atau harga referensi global, seperti baja, semen, list, sistem pendingin (HVAC), hingga perangkat smart home. Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI), Djoko Sarwono, menjelaskan bahwa pelemahan kurs berdampak langsung pada proyek yang menggunakan komponen impor sekitar 30% hingga 50%.
Dampaknya, pengembang umumnya tidak menyerap seluruh beban kenaikan biaya ini sendirian. Anton Sitorus, Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, menyatakan bahwa pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap peningkatan biaya pembangunan, yang kemudian diteruskan oleh pengembang ke dalam harga jual konsumen. Dalam pengamatan industri yang diulas oleh CNBC Indonesia (08/26), jika pelemahan ini berkepanjangan, harga properti baru di masa mendatang diproyeksikan berpotensi mengalami kenaikan berkisar 20% hingga 30%.
Properti Sebagai Pelindung Nilai di Tengah Ketidakpastian
Secara historis, properti terbukti menjadi salah satu instrumen pelindung nilai (hedge) yang cukup tangguh terhadap inflasi. Hal ini berkaitan dengan konsep replacement cost (biaya pembangunan kembali), sehingga nilai suatu properti cenderung ikut terkerek naik seiring melonjaknya biaya material bangunan.
Dibandingkan instrumen keuangan yang rentan tergerus inflasi tinggi, properti menawarkan pertumbuhan nilai aset fisik dan potensi imbal hasil yang relatif lebih stabil dalam jangka panjang. Sebagai instrumen investasi, properti bersifat unik karena punya fleksibilitas fungsi ganda, dapat digunakan sebagai hunian pribadi sekaligus aset yang berpotensi menghasilkan pendapatan pasif lewat sewa.
Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, menyimpan dana di deposito memang terkesan sebagai pilihan yang aman. Namun dalam skala jangka panjang, imbal hasil deposito yang relatif statis ini berisiko tergerus laju inflasi makro, sehingga nilai riil kekayaan berpotensi menyusut.
Sebagai alternatif, mengalihkan sebagian dana ke properti berpotensi menawarkan kombinasi keuntungan: peluang kenaikan nilai aset (capital gain) seiring naiknya replacement cost di masa depan, sekaligus potensi pendapatan tambahan dari sewa. Kombinasi ini menjadi salah satu pertimbangan menarik dibanding instrumen keuangan konvensional meski seperti instrumen investasi pada umumnya, hasil aktualnya tetap bergantung pada kondisi pasar dan tidak dapat dijamin sepenuhnya.
Properti di Kota Pelajar, Yogyakarta
Yogyakarta memegang posisi strategis sebagai pusat pendidikan dan pariwisata. Setiap tahunnya, gelombang mahasiswa baru dan pelancong terus membanjiri kota ini, menciptakan kebutuhan hunian sewa yang relatif stabil. Terjadi pula pergeseran tren di kalangan generasi muda, yang kini mulai beralih dari menyewa kos-kosan konvensional ke apartemen modern yang menawarkan privasi, keamanan, dan kepraktisan.
Pergeseran tren inilah yang menciptakan peluang besar bagi pengembang yang mampu menghadirkan hunian modern dengan lokasi strategis di Jogja.
Salah satu pengembang yang secara konsisten menjawab peluang ini adalah PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID), perusahaan pengembang yang berdiri sejak 2010 dan berbasis di Yogyakarta. SWID merupakan anak perusahaan dari PT Saraswanti Utama, dan kini tercatat sebagai perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham SWID, status yang menuntut transparansi dan akuntabilitas lebih tinggi dibanding pengembang non-publik pada umumnya.
Mataram City sendiri merupakan kawasan mixed-use di Jl. Palagan Tentara Pelajar yang menggabungkan hunian apartemen (Menara Sadewa dan Yudhistira), kondotel yang dioperasikan sebagai The Alana Yogyakarta Hotel (Menara Nakula), serta Mataram City International Convention Center (MICC). Menara Sadewa dan Yudhistira telah terbukti berhasil dibangun, dihuni, dan disewakan. Dengan rekam jejak ini, SWID kini melanjutkan pengembangan lewat Apartemen Arjuna.
Di tengah tren kenaikan harga properti baru akibat pelemahan rupiah, status Arjuna yang sudah rampung dibangun justru menjadi keuntungan tersendiri bagi calon pembeli. Salah satu pertimbangan yang bisa dilihat dari Apartemen Arjuna adalah statusnya yang sudah berdiri kokoh dan siap huni, sehingga harga yang ditawarkan saat ini masih mengacu pada harga sebelum penyesuaian, dan untuk jangka pendek relatif belum terpengaruh fluktuasi dolar terbaru. Dengan status ready stock, risiko terkait proyek mangkrak atau pembengkakan biaya material konstruksi dapat diminimalkan.
Apartemen ini mengusung konsep smart living yang kompatibel dengan teknologi smart home, seperti smart door lock, smart CCTV, dan smart socket. Dengan unit tipe Studio (34m²) dan Two Bedroom (49m²) yang tergolong luas di kelasnya, Apartemen Arjuna menawarkan fleksibilitas investasi yang cukup menarik untuk dipertimbangkan.
Membeli properti di tengah pelemahan rupiah bukan berarti tanpa pertimbangan, namun bisa menjadi momentum untuk mengamankan harga sebelum berpotensi mengalami penyesuaian. Mempertimbangkan Apartemen Arjuna Mataram City hari ini dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk merencanakan masa depan finansial Anda.
Segera amankan unit investasi Anda di Apartemen Arjuna →
Penulis: As’ad Najmuddin
Editor: Ardini Ratnasari
Daftar Pustaka
- Boimau, D. B. H., Amtiran, P. Y., Makatita, R. F., & de Rozari, P. E. (2024). Pengaruh inflasi, nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia terhadap indeks harga saham sektoral pada sektor properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Glory: Jurnal Ekonomi & Ilmu Sosial, 4(1), 25–40.
- CNBC Indonesia. (n.d.). Jika rupiah terus melemah, harga properti terancam naik 20-30%. YouTube.
- Fast Up Official Realty. (2026, Mei 20). Beli properti saat dollar naik: Rugi atau untung? Analisis 2026. Fast Up Official Realty. https://fastupofficial.id/beli-properti-saat-dollar-naik-analisis-2026/
- PT Saraswanti Indoland Development Tbk. (2024, Oktober 14). Apartment Arjuna: Satu-satunya smart living di kawasan terintegrasi – Mataram City. Mataram City. https://mataramcity.com/apartment-arjuna-satu-satunya-smart-living-di-kawasan-terintegrasi/
- Satria, R. P. (2026, Mei 6). Rupiah tertekan, harga properti terancam naik. Investortrust.id. https://investortrust.id/business/102470/rupiah-tertekan-harga-properti-terancam-naik
- Vitria, A., Herawati, A. S., Megawati, & Karismayana, N. (2026). Analisis strategi investasi jangka panjang dan jangka pendek. Jelajah Ekonomi: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, 1(4), 129–139. https://publications.corejurnal.com/index.php/ekonomi/